Arti “Kalam” Dalam Bahasa Arab

بسم الله الرحمن الرحيم

Dalam pelajaran bahasa Arab edisi perdana ini, kita akan memulai mempelajarinya dengan pelajaran ilmu Nahwu. Yang mana dengan Ilmu Nahwu ini kita harapkan adanya pengoreksi lisan dari kekeliruan dalam mengucapkan bahasa Arab dan membantu kita dalam memahami makna-makna yang dikandung oleh alquran dan sunnah nabi.

Definisi ilmu Nahwu.

Ilmu Nahwu merupakan sebuah bidang ilmu yang berbicara tentang pokok-pokok dasar yang bersumber dari ucapan bangsa Arab untuk mengetahui berbagai keadaan akhir sebuah kalimat sempurna baik secara i’rab maupun bina’nya. Adapun pengertian i’rab maupun bina’ nanti akan kita pelajari pada pembahasannya secara tersendiri insya Allah.

Adapun Nahwu secara bahasa memiliki beberapa makna, diantaranya: –tujuan; seperti ungkapan mereka نَحَوْتُ جِهَةَ زَيْدٍ yang maksudnya aku bertujuan kepada Zaid. –seperti; pada ucapan mereka زَيْدٌ نَحْوُ عَلِي yang maksudnya Zaid seperti Ali. Atau untuk menunjukkan sebuah nilai, seperti ungkapan mereka عِنْدي نَحْوُ أَلْفٍ ;saya memiliki sekitar seribu dan sebagainya dari makna Nahwu itu sendiri.

Dan kita akan ambil kitab al-Aajurumiyyah sebagai acuan dalam mengenal kaidah dasar bahasa Arab dalam pelajaran kita kali ini yang ditulis oleh al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Daud as-Shonhaji yang mana kitabnya ini telah Allah jadikan keberkahan padanya dengan adanya perhatian besar dari para ulama terhadap karya beliau ini hingga kita dapati tidak hanya satu kitab yang memberikan penjabaran terhadap isi dari kitab beliau tersebut.

Pembahasan Pertama.

 Kita akan memulainya dari ucapan imam Aajurrum rahimahullah,

(الكَلامُ هُوَ الَّلفْظُ المُرَكَّبُ المُفِيدُ بِالوَضْعِ)

Terjemah:

Al-Kalam adalah sebuah lafazh yang tersusun yang memiliki makna yang sesuai dengan tatanan (bahasa Arab)”.

Al-Kalam dalam bahasa Indonesia sering diungkapkan dengan “kalimat sempurna”. dalam hal ini jika kita perhatikan ungkapan yang dibawakan oleh imam Aajurrum maka kita akan menemukan adanya 4 (empat) syarat agar sebuah kalimat bisa dikatagorikan sebagai kalimat sempurna. Diantara persyaratannya ialah:

  1. Harus berupa lafazh (الَّلفْظُ). Yang dimaksudkan dengan lafazh di sini ialah sebuah suara yang mengandung sebagian dari huruf-huruf hijaiyyah (seperti alif, ba’, ta’, tsa dan seterusnya). Sebagai contoh kita ambil kataزَيْدٌ maka manakala kita mengucapkannya maka itulah yang dimaksud dengan lafazh di sini. Dengan demikian maka sebuah isyarat, tulisan atau yang semisal dengan keduanya dari hal-hal yang dapat kita pahami dari sebuah ungkapan tidak dapat dikatakan sebagai lafazh disebabkan bukan berupa suara yang dimaksud di atas.

  2. Harus tersusun dari 2 (dua) suku kata atau lebih (المُرَكَّبُ) . Sebagai contoh:سَافَرَ مُحَمَّدٌ (Muhammad telah pergi) atauالعِلْمُ خَيرُ تِجَارَةٍ (Ilmu adalah sebaik-baik perniagaan). Pada contoh pertama berupa lafazh yang tersusun dari dua suku kata, yang pertama:سَافَرَ dan kedua مُحَمَّدٌ . Sedangkan pada contoh kedua berupa lafazh yang tersusun dari tiga suku kata, yang pertama: العِلْمُ , yang kedua: خَير dan yang ketiga:تِجَارَةٍ . Dengan demikian apabila kita hanya mengucapkan lafazh مُحَمَّدٌ saja maka tidaklah dikatakan sebagai al-Kalam menurut ahli nahwu karena hanya tersusun dari satu suku kata saja atau yang diistilahkan dengan mufrod (tunggal).

  3. Harus memberikan pengertian atau makna yang sempurna dalam arti kata bahwa lawan pembicara tidak lagi menunggu kelanjutan dari sebuah percakapan yang kita ungkapkan, ini yang diistilahkan dengan (المُفِيدُ) seperti pada ucapan kita قَامَ زَيدٌ (Zaid telah berdiri), ungkapan tersebut dikatakan mufid (bermakna) dikarenakan lawan bicara kita memahami apa yang kita bicarakan dan tidak lagi menunggu kalimat berikutnya disebabkan telah sempurna memahaminya. Lain halnya ketika kita mengatakan عًبْد الله atau إِنْ قَامَ زَيدٌ (jika Zaid telah berdiri) maka pada contoh pertama tidak termasuk pada syarat kita yang ketiga ini yaitu mufid dikarenakan bentuknya yang tunggal. Adapun pada contoh yang kedua tidak dikatakan mufid karena tidak memberikan makna yang sempurna dan lawan bicara kita masih akan menunggu akibat yang dihasilkan dari perbuatan Zaid berdiri.

  4. Harus dengan tatanan bahasa Arab. maksudnya ialah bahwa lafazh-lafazh yang akan kita ungkapkan merupakan lafazh-lafazh yang digunakan oleh bangsa Arab untuk menunjukkan suatu makna yang kita harapkan. Sebagai contoh lafazh مَشَى yang memiliki makna berjalan; manakala lafazh tersebut merupakan lafazh yang digunakan oleh bangsa Arab untuk menunjukkan makna berjalan di masa yang lampau maka lafazh مَشَى dapat kita gunakan untuk menunjukkan makna berjalan di masa lampau. Hal ini berbeda dengan lafazh طَرِيقٌ (jalan); lafazh ini tidak dapat kita gunakan untuk menunjukkan kegiatan berjalan dikarenakan bangsa Arab tidak menggunakannya sebagai lafazh yang menunjukkan kegiatan berjalan. Maka jangan sampai anda mengungkapkan kegiatan berjalan-jalan dengan lafazh ini, أَنَا طَرِيقٌ إِلَى المَسْجِدِ (saya jalan menuju masjid). Maka dengan demikian keluar dari syarat terakhir ini ialah ungkapan-ungkapan yang bukan dari bangsa Arab seperti bahasa Persia, Barbar maupun yang lainnya.

Pembagian al-Kalam.

Al-Kalam (kalimat sempurna) menurut ulama Nahwu juga sering diistilahkan dengan al-Jumlah al-Mufidah. Dan jumlah mufidah ini terbagi menjadi 2 (dua) bagian.

  1. Jumlah Ismiyyah, yaitu sebuah kalimat sempurna yang susunannya diawali dengan isim (kata benda). Seperti pada contoh kalimat: العِلْمُ خَيرُ تِجَارَةٍ (Ilmu adalah sebaik-baik perniagaan).

  2. Jumlah Fi’liyyah, yaitu sebuah kalimat sempurna yang susunannya diawali dengan fi’il (kata kerja). Seperti dalam contoh kalimat: سَافَرَ مُحَمَّدٌ (Telah pergi Muhammad).

Untuk lebih memperjelas pembahasan kita berikut kami bawakan contoh-contoh kalimat sempurna dan kalimat tidak sempurna.

Contoh-contoh kalimat sempurna.

  • قَطَفَتْ فَاطِمَةُ زَهْرَةً

  • أَنَا مُشْتَرِكٌ فِي الجَمَاعَةِ

  • ذَهَبَ عَليٌّ إِلىَ المَدْرَسَةِ

Contoh-contoh kalimat tidak sempurna.

  • إِذَا قَطَفَتْ فَاطِمَةُ زَهْرَةً

  • ذَهَبَ عَليٌّ إِلىَ

  • الكِتَابُ عَلىَ

Kosa kata baru:

  • قَطَفَتْ : memetik.
  • فَاطِمَةُ : Fathimah
  • زَهْرَةً : bunga
  • مُشْتَرِكٌ : turut serta
  • فِي : di dalam
  • الجَمَاعَةِ : sholat berjamaah
  • ذَهَبَ : pergi
  • المَدْرَسَةِ : sekolah
  • إِذَا : jika
  • الكِتَابُ : buku/kitab

Demikian sudah pelajaran bahasa Arab kita kali ini, semoga apa yang diuraikan dalam materi ini dapat dipahami dengan baik. Dan bagi anda yang ingin melatih pemahaman dari apa yang telah diuraikan silahkan anda belajar menentukan dari contoh-contoh yang telah ada mana yang merupakan jumlah ismiyyah dan mana yang merupakan jumlah fi’liyyah serta berikan alasannya. Selamat mencoba.

About these ads

About mediasantri

Penyedia Ebook Islami
This entry was posted in Bhs. Arab. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s